Jumat, 19 April 2013

KREKER ISI RAGOUT

Berangkat hujan deras, pulang masih juga deras. Hawa dingin memang godaan berat buat duo otak kanan dan otak kiri; Jadi agak korslet, hihihi.... Sebenarnya nggak lapar jadi pengen makan sesuatu dan yang tadinya nggak butuh beli apa-apa jadi dibutuh-butuhin. Kacau! Nyetir jadi nggak konsen gara-gara terjadi perang batin (lebay nie...) karena nggak mau sok alim (beuh...). So, teteup dong mampir ke Alfamart (catet: terpaksa!).

Ambil roti tawar, susu kotak low fat, kreker kentang dan kreker daun bawang, sekalian Lays dan ice cream pesenan Xti yang lagi malas ikut belanja. Langsung bayar karena gak ada yang ngantri. Pulang.

Eh, begitu sampai rumah malah pengen makan yang lain. Haduuuh... inikah tanda-tanda orang mau gemuk? :(
Gak mau ah makan kreker begitu saja. Standar! Langsung periksa kulkas... ting! Bikin kreker isi ragut. Laksanakan! Biasanya ragout identik dengan sayuran dan telur, tapi kali ini harus menyesuaikan dengan isi kulkas dan waktu (keburu laparnya hilang). Kalau tertarik mau bikin boleh juga loh.... gampang kok!

Bahan:
  • Kreker asin
  • 2 sdm margarin/mentega
  • 2 siung bawang putih, haluskan/cincang
  • 5 sdm terigu serba guna
  • 300 ml susu cair
  • 1-2 lembar daging asap
  • jagung manis pipilan
  • sledri dicincang kasar
  • merica & pala bubuk, garam & gula (secukupnya)
  • Terigu untuk memanir
  • 1 butir telur tambah 2 sdm susu/air matang, kocok lepas

Cara membuat:
  1. Panaskan margarin/mentega.
  2. Tumis bawang putih sampai harum
  3. Masukkan terigu sedikit demi sedikit, sambil diaduk sampai tercampur rata dan terigu matang
  4. Tuang susu perlahan sambil diaduk sampai licin
  5. Masukkan merica, pala, garam, & gula, aduk
  6. Masukkan jagung manis, daging asap, & sledri, aduk sampai tercampur dan jagung matang, angkat.
  7. Ambil 2 keping kreker, isi bagian tengah dengan ragout isi, kerjakan sampai habis
  8. Bedaki dengan terigu tipis-tipis, celup ke dalam telur kocok, goreng dalam api sedang sampai kuning kecoklatan, sajikan
Biasanya pakai kreker persegi (Monde, Nissin), setelah matang aku potong melintang (bentuknya jadi segi tiga dan ragoutnya jadi kelihatan gitu), tapi kali ini pakai kreker bulat dan tetap dipotong jadi 2. Lucu juga! ^_^

Perut kenyaaang...!



Kamis, 18 April 2013

Renovasi Blog Lama

Tiba-tiba pengen nge-blog lagi! Bosen fesbukan terus (boong!). Kangen saja nulis-nulis ngalor ngidul ngetan balik ngulon (kayak orang bingung kan? Hihihi...). Gawatnya, lupa kata sandinya apa! Untungnya gak perlu ribet inga-inga password blog-ku apa, tinggal klik sana klik sini, klak klik... tunggu hitungan detik, dapat balasan via e-mail, bikin password baru, beres... sukses dah!

Pertama kali yang aku lakukan adalah buka-buka arsip alias mau nostalgia gituuu... hihihi... jadi geli sendiri baca tulisan-tulisan sendiri masa lampau. Ada yang lucu, ada yang kaku (bahasa dan cara bertuturnya), ada yang mengharu biru, dan banyak yang lebay juga bu (maksa banget biar semua berakhiran "u", huhuhu...)!

Lanjut dengan perbaikan sana-sani. Ada 1-2 gadget yang rusak dan harus dibuang. Baiklah... tidak masalah. Juga tampilan beranda yang sudah agaagak gimanaaa... gitu! Pokoknya renovasi hampir habis-habisan. Disisakan dikit, terutama nama Pasar Minggu sebagai nama blog. Bagaimanapun nama itu mempunyai arti leksikal dan arti gramatikal. Nah lho... jadi nyrempet-nyrempet pelajaran bahasa kan? Hehehe....

Makna leksikalnya adalah nama sebuah pasar yang sangat terkenal (terkenal nggak sih?) di daerah Jakarta Selatan. Bahkan sampai ada lagunya lho! "Pepaya, mangga, pisang, jambu... dibawa dari Pasar Minggu... di sana banyak penjualnya... dan juga banyak pembelinya..." dst. dst.. Ya iyalaaah! Namanya juga pasar ;-)



Makna gramatikalnya ya sesuai dengan konteks pemakaian saja.

Makna gramatikal pertama; hampir 10 tahun keluarga kecilku tinggal di daerah Pasar Minggu, yang walaupun masih satu wilayah bukan berarti aku tinggal nyebrang atau jalan kaki saja lho kalau mau belanja ke Pasar Minggu. Teteup... harus naik angkutan, naik ojek, atau jadi tukang ojek :P Kalau mau jalan kaki juga boleh sih, tapi gempor ditanggung sendiri yah! ;-)
Banyak suka dan duka yang rasanya tidak pantas dilupakan begitu saja. Mulai lebeh deh! Bahkan sampai rasanya aku kenal deh semua penjual sayur & tukang ojek, bahkan juga semua preman di sana, hahaha....

Makna gramatikal kedua, ya bisa pasar di daerah mana saja. Biasanya Pasar Minggu yang ini hanya buka hari Minggu saja. Kalau Pasar Minggu yang di atas ramenya tiap hari, dari subuh sampai subuh lagi... 24 jam nonstop dah! Lucunya, beberapa pasar tradisional di Jakarta menggunakan nama hari tapi beroperasi setiap hari; Pasar Jumat, Pasar Rebo, Pasar Senen. Tidak seperti kalau di desa-desa (terutama jaman aku kecil dulu), yang namanya Pasar Wage ya bukanya setiap hari Wage (nama hari dalam penanggalan Jawa) atau Pasar Kliwon buka setiap hari Kliwon. Unik!

Makna gramatikal ketiga... monggo pinarak sedherek sedaya (Silakan singgah/duduk, saudara semua), selamat berkunjung ke blog-ku yang sangat sederhana ini. Semoga dapat sedikit mengisi waktu (atau malah membuang waktu?), menghibur, dan syukur-syukur memberi manfaat! 

Jumat, 03 Juni 2011

Reminders Slideshow

Reminders Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Reminders Slideshow ★ to Yogyakarta and Jakarta. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Kamis, 02 Juni 2011

Reminders Slideshow

Reminders Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Reminders Slideshow ★ to Jakarta. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Rabu, 01 Juni 2011

Reminders Slideshow

Reminders Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Reminders Slideshow ★ to Jakarta. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Sabtu, 06 Juni 2009

HAM-HAM Si Marmut

Ujian akhir semester sudah usai. Wis pokok'e mau ngapain aja bebas deh...! Terima rapor masih Sabtu depan (13 Juni'09) sih, tapi kegiatan di sekolah sudah santai; menggambar, menyanyi, bikin mosaik, boleh bawa buku cerita, boleh bawa mainan, wis... ibunya juga ikut leyeh-leyeh, hehehe....

Sesuai janjiku, setelah ujian selesai, Xti boleh beli guinea pig alias marmut. Pulang sekolah hari Jumat kemarin langsung meluncur ke Ragunan dengan 36 nyambung S15 (nomor angkot yang membawa kami menuju Ragunan, hehehe...) plus panas yang menyengat dan sumuuuk.... Untung perjalanan gak macet dan angkutan gak full tank; jadi kami bisa duduk sedikit leluasa.

Benar-benar nggak sabar deh si Xti, baru juga turun dari kendaraan langsung komentar, "Mana, bu, kok nggak ada, di mana yang jual?" Hihihi... penasaran benar nih anak ya!

Di samping GOR berderet macam-macam pedagang, tapi yang paling mencolok adalah penjual binatang dengan fam: binatang pengerat. Mulai dari kelinci lokal, kelinci interlokal, eh... maksudnya kelinci ras macam anggora gitu, ada hamster, dan tentu saja si guinea pig alias marmut. Dari kejauhan sudah kegirangan benar anakku, berkata-kata mengandung ketidaksabaran plus sedikit gemas.

Lucunya, bapak penjual gak tahu apa itu guinea pig, malah bingung dan balik bertanya. Nah lho! Sebenarnya guinea pig itu ya marmut, cuman aku sempat ragu, jangan-jangan itu jenis marmut impor atau marmut blasteran (indo, hahaha...), tapi begitu melihat sosok kecil yang sepintas mirip tikus (mulut lancip, daun telinga juga kecil dan pendek, kaki juga ramping) tapi jauh lebih cakep dengan bulu warna telon (putih, hitam, dan coklat), aku yakin; oalaaah... ya emang marmut!

Pilih dipilih, sebenarnya Xti sempat 'berpindah ke lain hati' alias melirik si kelinci-kelinci di kandang sebelah yang memang kelihatan lebih lucu dan menggemaskan. Apalagi yang jenis impor, macam anggora dengan bulu-bulunya yang dhiwut-dhiwut, lucu banget! Ada juga yang bulunya seperti biri-biri siap dicukur untuk bikin mantel. Ada yang bulunya seperti karpet, wis pokoknya aku saja ikut-ikutan gemes! Tapi penjualnya bilang, kelinci lebih rentan alias gak tahan cuaca dingin dan lebih sulit perawatannya. Wah, berarti gak bisa dong diajak hidup 'preman' ala Kristi? Hahaha....

Ya sudah, Kristi setuju kembali ke minat semula, marmut. Awalnya seekor marmut yang gemuk bulat menarik perhatiannya, tapi ternyata si marmut sedang bunting. Nggak ah, ntar repot kalau anak-anaknya lahir malah harus beli kandang baru dan bla bla bla.... Akhirnya Xti memilih marmut berukuran sedang untuk dibawa pulang (tentu saja harus membayar sesuai kesepakatan hasil tawar menawar).

Sepanjang perjalanan pulang dan sambil menenteng kandang mungil berisi seekor marmut (yang juga mungil) tak hentinya dia berbicara dan bertanya; mulai dari nanti makannya apa, nanti malam di mana si marmut tidur, mau diberi nama siapa, boleh nggak dia memandikannya besok, boleh diajak bermain-main apa tidak, dan masih ditambah serentetan rencana menyambut 'anggota' baru ini di rumah. Gak ikutan mikir ah.... :)

Benar saja, begitu sampai rumah, banyak sekali 'upacara penyambutan' dilakukan Xti; ambil wortel, ambil air minum, dan akhirnya akupun harus turun tangan; mencari tempat yang pas untuk meletakkan kandang dan menyiapkan alas kandang. pfff... selesai sudah. Bisa juga aku beristirahat. Tapi Xti tidak, hampir seharian dia 'bercengkrama' dengan teman barunya. Setelah mengumumkan kepada aku dan bapaknya bahwa nama si marmut adalah Ham Ham Hamila, dengan nickname: Ham-Ham, resmi sudah si Ham-Ham menjadi penghuni rumah ini.

Inilah dia si Ham-Ham, cakep kan? Hihihi....

Jumat, 27 Maret 2009

PIZZA ala Kristi

Kemarin, pas libur Nyepi aku dan Kristi bikin pizza lho...!
Persiapan bahan dibantu Kristi: olive oil, pasta tomat kalengan, paprika slice, bombay, daging cincang, sosis, daging asap, jamur, dan mozarella. Pembuatan hampir sepenuhnya dilakukan Kristi (kulit pizzanya beli jadi sih...), aku hanya komentar kurang gini, tambahin itu. Terakhir: bagian memanggang (ya wis kudu aku, lha wong lebih gedhe oven dari pada dia!!!).
Hasilnya? Taraaa....

Rabu, 25 Maret 2009

Bazaar Strada

Dalam rangka HUT Strada (sekolah Xti), Strada Wiyatasana (SD yang di Pejaten) bikin gawe: lomba antar TK (menari, menggambar,senam, bola keranjang, dan entah apa lagi aku kok gak hafal ya?) sekaligus gelar bazaar.

Secara, Xti sudah nggak TK lagi; jadi dia bukannya tertarik untuk nonton lomba-lomba itu tapi lebih antusias buat nonton bazaar. Namanya juga anak-anak!
Begitu upacara pembukaan kelar, langsung deh (dengan berbekal uang Rp 10.000,00 dariku) ngabur lagi bareng teman-temannya. Mungkin bakalan susah ya, dengan uang segitu dia bisa beli macam-macam yang dia suka dan inginkan. Bagaimanapun, aku sudah wanti-wanti agar uang itu dibelikan sesuatu yang benar-benar diinginkan tapi tidak boleh over budget. Aku sih maunya dia belajar bertanggung jawab seberapun nilai uang yang dia punya. Yang menyenangkan buat Xti adalah hari ini dia boleh membeli sesuai keinginannya: bebas, apa saja, bukan atas dasar rekomendasiku, ibunya.

Kira-kira 1 jam kemudian Xti sudah nongol lagi di hadapanku dengan wajah senang dan puas. Tahu tidak apa yang dia beli? Semacam lumpur buatan sejenis jelly berwarna merah seharga tepat sepuluh ribu rupiah. Gak ada sisa sedikitpun untuk bisa dimasukkan ke dalam celengannya di rumah. Btw, ya sudahlah... bukannya hari ini aku sudah memberi kebebasan tanpa embel-embel apapun?

Aku sendiri memilih untuk membeli tas tenteng kecil dari bekas pembungkus refill cairan pembersih lantai. Kan mendukung program daur ulang? Harganya pun cukup murah dengan ide yang direalisasikan dalam tas itu, dua puluh ribu rupiah. Selain itu juga: unik!

Intinya aku juga mau bertenggang rasa dengan anakku: beli barang sesuai dengan keinginan dengan dana yang sudah ditentukan. Gak adil bukan, kalau aku bebas beli ini itu sementara Xti tidak? BERHASIL!!!

Jumat, 20 Maret 2009

Pasar Jumat Perth

Pagi-pagi setelah antar Xti sekolah, niatnya mau ke pasar. Persediaan kulkas sudah menipis. Apa mau dikata, termakan juga bujuk rayuan mami-mami yang lain, ke perth yuuk... (Perth: Singkatan keren Pertanian; tiap hari Jumat dari jam 7 pagi sampai 3 sore ada "pasar" dadakan, ada yang kasih istilah Sogo Jongkok, Pasar Jumat Pertanian, PJ Perth, apa lagi gak tahu aku...). Barang yang dijual juga beraneka ragam, dari makanan ringan sampai makanan berat, dari pernik-pernik mungil sampai barang pecah belah, dari celana dalam sampai celana panjang..., kaos kaki, sepatu, seprei... pokoke seperti isi mall deh... Satu hal yang membuat istimewa adalah harga barang yang dijual lumayan miring alias murah meriah. Memang dari segi kualitas tidak setara mall kaum bourjouis, setara harganya: serba kelas satu, serba asli (padahal juga belum tentu, paling KW1 gitu). Pemakai setia Tupperware? Ada!

Sampai di sana sudah rame pengunjung, padahal masih jam 7.30WIB. Langsung deh nyamperin blok buah; kalau pagi-pagi masih banyak pilihan dan seger-seger. Nanas Subangnya bisa segedhe kepala kita. Kelar dari beli buah semua setuju kalau isi perut dulu. Siapa takut? Aku pesen soto Lamongan yang notabene my favourite! Apalagi kalau isinya lengkap dengan jerohan dan uritan ayam (ngeri ya? Gak setiap hari ini) yang kenyil-kenyil empuk. Belum lagi sarat dengan taburan poyah gurih dan sambel super pedes, wuiih... lekker! Atau mau yoghurt Bandung? Enak lho!

Di sini kalau mau gudeg Yogya juga ada lho! Lainnya nasi Kapau, ketoprak, gado-gado, bahkan pecel yang sayurnya lengkap: kecipir, bunga turi, daun paya, kenikir, taoge, bayem. Masih plus rempeyek kacang/teri dan lentho goreng. Bagi yang doyan kambing ada sate, gule, dan sup kambing. Fast food ala Jepang: Hoka-Hoka Bento juga ambil partisipasi. Pokoknya banyak deh!
Mau kudapan saja? Banyaaak... Mendoan dan lumpia semarang yang langsung goreng, jajan pasar sampai produk ala bakery juga lengkap. Ingat suami, nyangking pecel 2 porsi.

Kenyang. Musti jalan lagi nih biar makanannya gak mandeg kelipat perut. Sekalian cuci mata, kali-kali saja ada yang cocok di hati sekaligus di kantong. Ada keset home sweet home tapi yang reject. Murah, mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 12.500 saja. Seorang teman sempat membeli beberapa set seprei untuk oleh-oleh. Aku sih standar, ibu-ibu; langsung mikir ke anak. Aku beli pensil yang seribu isi 3, kaos kaki yang sepuluh ribu dapat 3, lucu-lucu lagi! Juga terusan bahan kaos motif bunga-bunga biru pink seharga Rp 20.000. Terakhir beberapa helai sarung bantal buat ganti-ganti. Sudah. Biasanya kalo lagi niat banget, tentenganku lebih banyak dari itu: yang daun pakis, keong sawah, bunga pepaya, krupuk ikan... banyak deh! Bahkan ada teman yang setiap ke Perth, selalu beli tanaman hias; secara lokasi Perth ini memang tempat mangkalnya kios tanaman hias.

Satu hal yang pasti: gak boleh setiap Jumat ke Perth, bisa bikin kantong jebol!

Kamis, 19 Maret 2009

Sehari di Pasir Muncang

Hari Senin kemarin rame-rame ke Pasir Muncang, Lido (ke arah Sukabumi) bareng beberapa teman sekolah Xti (lengkap dengan ibu mereka dong...). Base kita di villa BI, secara papa Rico terdaftar sebagai pegawai BI gitu loh! Otomatis mama Rico bertindak sebagai tuan rumah.

90 menit perjalanan dari Jakarta, sampai juga kita di villa. Waktu sih masih menunjukkan pk 09.00 WIB, tapi begitu turun rasanya sudah pada kelaparan, terutama... ibu-ibunya, dasar!!! Anak-anak sih langsung ribut rebutan kamar. para mama ribut buka bekal bawaan masing-masing. Mama Lika bawa donat J'Co dan sambel teri medan, mama Meily bawa lontong isi dan mie instant. Aku sendiri selaku pengusaha kue gak 'aci' kalo gak bawa macam-macam: lasagna 1 loyang besar, proll tape 1 dus, masih ditambah tahu tempe goreng bumbu empal. Serbuuu...!!!

Cuaca sangat cerah, bahkan cukup panas sehingga membuat ibu-ibu enggan beranjak dari tempat duduk (sebagai area rumpian), untuk sekedar berjalan-jalan sekitar lokasi. Sementara anak-anak malah sudah ada yang belepotan lumpur dekat sawah dan jatuh di kubangan air. Namanya juga anak-anak. Anehnya, anakku malah ada sedikit trouble, dia nolak mentah-mentah gabung dengan rombongan anak-anak untuk menjelajah sawah. Awalnya aku berusaha maklum, karena itu hak dia, tapi aku jadi sedikit hilang kesabaran ketika dia mulai ngambek karena tidak ada satupun teman yang bersedia menemaninya untuk tinggal di villa. Pengin rasanya langsung memberinya mata kuliah dasar-dasar pertemanan. Akhirnya ada waktu juga untuk berdua saja di kamar lantai atas. Kamu gak boleh egois, harus bisa ngalah, gak boleh maksakan kehendak... bla bla... Emang seharusnya gitu kan? Cuma dalam situasi singkat aku sudah gak mikir salah opo bener caraku tadi. Terakhir, dalam pelukanku aku bilang kalau dia di sini untuk bersenang-senang bareng teman, have fun! Ternyata sukses juga, aku lega dan kuharap waktu itupun dia lega. Setidaknya setelah dia berjanji jadi anak baik lagi dan ikut aku turun, menunggu teman yang lain pulang ke villa. Sukses!

Untung gak lama teman-temanya pada balik ke villa. Maklum, panasnya mulai nylekit! Sepakat kita istirahat siang sebentar dan mulai jelajah sawah setelah makan siang.
Dengan menu sederhana, nasi, oseng kangkung, tempe goreng dan sambel teri sambel terasi kenyang benar ini perut. Bahkan saking kenyangnya sampai jadwal jalan-jalan mundur terus sampai 3.30. Yang penting, akhirnya bergerak juga badan-badan wanita usia jelang 40 ini. Yang penting lagi Xti sudah bisa enjoy, ikut serta menikmati tour de village. Dasar ibu-ibu kecentilan, baru berapa meter melangkah, foto dong... foto! Lihat ada yang bagus untuk latar belakang, foto yuk... foto! Pokoknya lupa umur deh!

Paling seru kalau harus lewat jembatan di kali yang cukup deras airnya. Banyak yang ketakutan dan gak pede: maklum jembatan sudah sangat renta, baru sebelah kaki berpijak saja sudah berderit-derit diiringi goyangan bambu karena bekas kaki kita. Kalau aku sih lumayan pemberani, maklum dasare wong ndeso, tetep wae ndeso! Asal tahu saja, ada juga yang terpaksa nrimo ketika harus kejeblos dalam sawah yang baru disemai padi (jelas masih sangat berair kan!). Ada yang seneng bisa melihat orang memasak dengan tungku asli khas pedesaan. Pasti serasa kembali ke masa di mana neneknya tinggal, hehee... Anak-anak senang bertemu dengan induk ayam dan anak-anaknya yang giat mencari makan.
Ternyata lama gak pernah naik turun tanjakan dan bukit kecil, lewat pematang sawah yang begitu sempitnya sukses membuat semua berkeringat dan terengah-engah. Ngosh..ngosh...

Benar juga, begitu sampai villa, semua langsung kelaparan lagi! Langsung deh semua sepakat masak mie instant dengan ditambah irisan cabe rawit(kecuali anak-anak tentunya) dan kangkung. Nikmaaat...

Pk 17.30 WIB kita cabut deh ke Jakarta (tuan rumah tetap tinggal menginap). Secara kita masih ada kegiatan lain untuk hari berikutnya. Yang penting semua senang, dan anak-anak juga cukup senang dan puas dengan oleh-oleh yang mereka bawa dari hasil berburu mereka sendiri: berkantung-kantung plastik bunga pinus!

Tapi herannya, mengapa malah Jakarta yang diguyur hujan dengan derasnya???

Jumat, 13 Maret 2009

PUASSS... Krist?

Hari ini benar-benar padat (sengaja dibuat padat, secara besok cuma terima laporan nilai tengah semester, gitu...). De facto anak-anak gak perlu belajar di sekolah, de yure status sekolah masih belum libur. Btw, gak perlu bangun pagi-pagi dan takut telat.

Gimana gak padat: berangkat pagi-pagi, bahu kanan kiri, tangan kanan kiri penuh dengan bawaan; biola, tas isi baju ganti, map buku les, tas kristi yang sudah berat tanpa isi sekalipun. Hari ini lebih berat karena ada tambahan baju ganti olah raga. Belum tasku sendiri yang penuh dengan buku tabungan teman-teman Strada + buku besarnya. Bayangin!

Kristi sekolah, aku piket jaga UKS. Hari ini pasien ada 3 anak. Semua dengan keluhan yang sama: pusing. Aku beri Panadol anak.

Bel sekolah pulang, Kristi langsung ganti baju, meluncur bareng Bu Ifat (mamanya Nicholas) ke Paparons Pizza. Hari ini anak-anak kita beri hadiah pemanasan setelah harus belajar untuk midtest dengan mengikuti cooking class di Paparons. Lumayan, mereka jadi ngerti bahan baku dari pizza. Ditambah mereka masing-masing boleh membuat pan pizza untuk diri mereka sendiri sesuai dengan selera. Wuihh... rame dan seru. Senangnya!

Sambil nunggu pizza mereka masing-masing dipanggang, anak-anak boleh bermain di area bermain. Weleehh... namanya juga anak SD kelas 1, 2,3. Bisa kebayang sulitnya ngatur mereka yang nota bene jumlahnya cuma 20 anak!! Tetep, SUSAH! Ibu-ibunya sih tetep; ngobrol sana, ngobrol sini sambil pesen ini, pesen itu. Makan ini, makan itu. Foto sini, foto situ. Sini, situ...

Akhirnya, taraaa... mateng sudah pizza mereka. Waktunya makan. Ribut!! Semua diijinkan makan di lantai 2. Wis, pokoke serasa rumah dewe, juga berlagak seolah pergi sendiri makan di restoran. Ada yang ibunya pengin lihat pizza hasil ramuan si anak, eh... malah ditolak mentah-mentah. Gak boleh! Malu atau pelit, gak jelas! Ada yang berharap boleh nyicip pizza buatan buah hati tercinta, eh... sudah habis dimakan karena kelaparan. Anakku wis podho wae; pizza cuma sisa sepotong saja, maunya dibawa pulang dengan pesan: tidak boleh dimakan bapak atau ibu. Bapak cuma boleh lihat. Oalaah...

Selesai, aku dan Kristi langsung lanjut les biola. Jam 1 siang. Harusnya Rabu sore kemarin, tapi Pak Neil berhalangan so diganti Jumat siang. Kebayang kan panasnya? Tadinya sih iya, puanaas banget... tapi sesuai ramalan cuaca, Jakarta masih harus diguyur hujan. Bener deh, cuaca mulai mendung, sampai tujuan langsung tumpaaah!! Deres banget. Mana payungku ketinggalan di rumah lagi. Tapi Tuhan emang is the best, Maha Tahu (kalo aku gak bawa payung dan bawaanku tambah berat: sepotong pizza plus kotaknya yang gak sebanding dengan isinya, ihikk!) dan cinta padaku. Begitu kelas berakhir, lha kok jadi tinggal gerimis kecil, kecil banget bahkan plus puaanaaas (lagi). Pulang deh.... Biar cuma 40 menit, bete... ngantuk juga! Buka chatting sama suami, kayaknya lagi gak online. Rasanya pengin cepet sampai rumah.

Di rumah Kristi sudah ribut mau langsung berangkat renang (pas di sekolah sudah janjian mau berenang bareng di Cilandak Town Square). Akhirnya cuma bisa rebahan bentar. Kristi sibuk milih baju renang, aku langsung goreng nugget. Maklum, nantinya bakal banyak anak-anak yang ikut. Belum juga kelar, Ina sudah telepon mo nyamperin ke rumah. Beneran deh, gedubrak-gedubruk, habis gak enak; wong nebeng kok ditungguin.

Sampai sana anak-anak langsung heboh serasa gak pernah ketemu sebulan. Wong siangnya baru masak bareng di Paparons. Dasar! Anak-anak nyebur, mak-maknya tetep: makan cemilan, hehe.... Bener-bener gak sebanding, antara kalori yang masuk dan yang bakal dibakar nanti. Secara, para mama lebih banyak ngobrol ketimbang bergaya kupu-kupu kek, dada kek, bebas kek... Aku sih tetap gak mau rugi. Ngobrol iya, berenang juga oke. Jam 7 malam baru deh mentas, dan itupun paling belakangan.

Tinggal pulangnya. Kristi masih mau makan lumpia Chopstik. Mau 2 porsi malah. Tunaiku terbatas. Mau ke ATM, eh dipindah ke basement. Males ah! Pramusaji bilang, bisa pake card, tapi minimal 75ribu. Wuaduh, 3 porsi-an dong! 2 porsi saja belum tentu dia habis (ingat pernah makan di situ juga, sudah pesen lumpia, nasi goreng, masih kurang. Nambah nasgor lagi, eh malah muntah! Isin rek..!). Untung masih bisa dirayu. Satu porsi lumpia, di rumah nambah bikin roti bakar ala sekolah: dipanggang di wajan teflon dengan sedikit mentega, taburi coklat beras dan keju. wis. Yang ada, sampai di rumah jam 8 malam, lumpia disikat habis. Ngantuk. Tanpa ritual seperti biasanya: sikat gigi, rebutan guling sama aku, nglamuti sarung balinya dan sibuk bagi tempat sama Jilo, Teddy, Kelly dan siapalah aku gak apal boneka 'fabel'nya. Langsung pulesss... Absen, gak sikat gigi dong...?!?! Mau suruh bangun gak tega.... Semoga kuman-kuman perusak gigi sedang cuti panjang. off.

Selasa, 10 Maret 2009

Bete!

Kemarin libur 2 hari. Lumayan, istirahat dari belajar (Xti lagi mid, masih harus pendampingan), dan tidak mau terima pesanan kue dadakan. Kapok.

Masalahnya tadi pagi (sedikit) kesiangan. 5.30 baru bangun. Untung gak punya tanggungan (pesanan kue maksudnya). Bikin susu, nyiapin seragam & bekal Xti; simpel saja, cheese sandwich. siap deh! Eh, ternyata jemputan Xti yang pagi gak datang. Bete juga deh... Niatnya setelah Xti berangkat, aku ke pasar. Jadi yang ada, tanpa mandi (hihi... bau gak sih?), musti cepet-cepet berangkat kalo gak mau telat. Sudah 6.40! Untung lancar. Sampai sekolah sudah bel. Menurut informasi (dari Xti), bel tanda masuk sudah bunyi, kelas sudah duduk rapi, tapi dia gak diomeli. Syukur deh...

Senin, 09 Maret 2009

I'm a Blogger?

Ternyata... lama juga aku gak up date... males opo males??? Gak sempat। Alasan। Banyak pesanan juga. Alasan lagi. Ngurusi anak, banyak ulangan, banyak tugas. Alasan juga. Belum yang lain-lain. Apa? Beres-beres rumah (boong!), pergi sama genk strada (just 4 relationship). Yo wis pokoke kayak sedikit anti gitu lho kalo musti nyambangi blog-e dewe.

Banyak tanggunganku di komputer ini. Urusan data tabungan ibu-ibu Strada gak kelar-kelar. Kadang harus bertatap muka saja demi pendampingan anak; yang bikin soal latihan (biar serasa soal sungguhan ;-)), tugas internet. Belum lagi kalo Xti-nya cerewet. Browsing gak cukup 1-2 jam. Atau hanya demi urusan perbankan, Bayar ini, bayar itu. Saking malesnya, pernah kelupaan bayar tagihan. Yang ada diomelin suami deh... Wis digawe gampang malah dadi angel!

Omong-omong soal internet banking, kena juga deh sama petugas bank, gara-gara wis gak tau dolan ke bank so sudah hampir 3 tahun gak pernah cetak transaksi di buku. Sampai bulan lalu, ketika dengan sangat terpaksa harus datang langsung ke bank, mbaknya customer service senyum-senyum sambil bilang sudah berapa tahun tidak print? Malu sih enggak, jadi mikir saja; emang harus ya rutin cetak buku?

So, sekarang merasa 'butuh' lagi. Xti sudah kelas 3 dan pulang siang dan terutama sejak sebulan y.l. sakit gara-gara kebanyakan order kue ;-)
Sudah waktunya berkolaborasi lagi dengan blog-ku dewe. Jangan anget-anget tai ayam.

Minggu, 20 April 2008

Hari Kartini

Besok hari Senin, seperti biasa ada upacara bendera. Bukan aku, tapi Xti yang upacara. Kebetulan pas tanggal 21 April. Hari Kartini. Untuk Xti yang baru kelas 2 SD tidak ada yang neko-neko. Cukup latihan lagu Ibu Kita Kartini hari Sabtu kemarin. Tapi ternyata aku jadi ikut "heboh" dalam rangka hari Kartini besok. Bukan tentang Xti. Tapi tentang Vina, kakak Henry teman Xti; yang sekolah di SMP Tarakanita yang notabene adalah sekolah khusus anak perempuan alias cewek alias wedok alias wadon, besok kudu harus wajib pakai kebaya. Ceritanya, sang mama kebingungan cari kebaya untuk si putri sulungnya. Aku maklum banget kalau beliau tidak prepare kebaya di rumahnya. Banyak faktor; satu, asal dari Bangka. Dua, keluarga keturunan Cina. Tiga, gak nyangka gitu lho kalau musti berkebaya. Sejak aku tinggal di Jakarta memang belum pernah aku melihat ada sekolah yang mengharuskan berkebaya di hari Kartini. Mungkin ada, tapi hanya dalam hitungan jari.
Si mama sudah usahakan, tapi ternyata kalau gak kekecilan ya kedodoran. Akhirnya aku ikut bongkar-bongkar baju. Seingatku kebaya wisudaku aku boyong juga ke Jakarta. Tapi gak ada juga. Satu-satunya yang lumayan gak kedodoran di badan Vina ya kebayaku pas pernikahan di Gereja. Dulu beratku cuma 47 kg. langsing ya?
Niatnya sih, kebaya mau disimpan untuk Xti nanti kalau sudah gede. Aku pikir-pikir lagi, kayaknya gak problem deh kalau dipinjam dulu, toh belum tentu nasib kebayaku baik-baik saja saat Xti dewasa nanti. Yang penting Xti bisa baik-baik saja dan siap menjadi perempuan masa depan sebaik-baiknya. Baik Bu!

Selasa, 08 April 2008

Bikin Kue lagi...

Setelah seminggu kemarin digeber pesenan kue ultah bentuk hati untuk para suami (heran deh, kok para suami teman-temanku itu ulang tahun bisa cuma beda hari saja sih?? Janjian kali ya...) giliran minggu ini "teken kontrak" bikin kue potong. Mumpung ada hari kosong, benar-benar kupakai untuk ...tidur! Masalah lagi, kalau kue yang dipesan judulnya itu-itu saja. Wah, bete jugalah aku ini! Kayak gak ada tantangan gitu. Bosen. Eneg juga. Bahkan terkadang hilang selera makanku. Hihihi... kok kayak cerita tentang sesuatu yang nggilani ya? Belum lagi kalau serasa kehabisan waktu, ibarat bikin laporan yang kena dead line gitu deh! Tapi ya tetep saja kujalani, ta'lakoni, lha menghasilkan juga sih, hehe...
Tapi jangan harap di rumahku selalu berlimpah ruah kue dan makanan. Bahkan suamiku pernah protes, "Tukang bikin kue kok di rumah gak pernah ada kue?" Ya habis mau bagaimana lagi, kalau pesanannya dihitung per-loyang, masak ya mau kucuil or kucemol untuk persediaan di rumah? Gak mungkin banggetlah...

Peri Telur Paskah

Sebenarnya lomba menghias telur Paskah sudah lewat, 1 minggu yang lalu. Tapi pengumuman dari bu guru baru hari Jumat kemarin. Xti seneng soalnya dia menang, peri telur Paskahnya juara satu. Padahal ada hasil karya lain yang lebih bagus. Usut punya usut, ternyata kreasi si teman sudah 'jadi' dari rumah. Alhasil batal deh menang. Sebenarnya ada beberapa bagian dari 'peri'nya yang dibantuin sama maknya. Badan. Tapi mungkin karena dia jujur sama bu guru merupakan point plus buat hasil karyanya. Hadiahnya tergolong biasa saja, tapi istimewa buat dia, diary dengan icon si cutie Barbie. Isi diary-nya bukan tentang dirinya, tapi tentang semua teman-teman di kelas, terutama yang sakit (kayak buku absensi aja...). Si Ini gak masuk sekolah karena sakit flu, si Anu sakit kepala, si... siapalah diare sejak dari rumah.
Sampai hari ini, peri-peri itu (Xti bikin 2 peri) belum dibongkarnya. Masalahnya, umur telur rebusnya sudah 2 minggu. Sudah pasti basi. Sudah pasti bakal dibuanglah. Tapi kapan? Xti masih belum tega. Ya sudahlah...

Rabu, 26 Maret 2008

Semangat Baru vs Baru Semangat

Libur mid semester diimbuhi libur Paskah cukup membuat Xti 'kangen' ke sekolah (yang jelas ya kangen teman-teman dan Bu Yuni, impossible kalau kangen "untuk" sekolah, lha wong ulangan mid saja baru kelar 2 hari sebelum terima rapor bayangan, berarti dia baru bisa bernafas lega 2 hari sebelum masuk masa libur, itu berarti pula dia baru bebas dari karantina belajar yang ketat). Bayangkan, semalam saja, dia susah tidur seolah-olah paginya harus berangkat sekolah untuk pertama kali. Dengan cerewet (kayak aku, hehe...) plus sedikit gemas juga gusar dia bilang, "ibuu..., aku nggak sabar pengin cepet pagi dan berangkat ke sekolah... Aduh, teman-temanku bagaimana ya? Sekolahku masih sama nggak ya? Besok aku pakai baju warna apa ya, bu? Besok bangunin aku ya bu, aku janji deh gak akan rewel kalo dibangunin... dan bla bla bla.. " masih panjang lagi daftar cerecehan (artinya: suara monyet dalam pelajaran bahasa Indonesia anakku, hihihi...). Norak nggak sih? Dulu aku waktu kecil juga suka norak kalau mau diajak jalan-jalan ke luar kota, tapi kalau hanya menyongsong hari esok setelah libur yang tidak panjang (buatku libur panjang hanya kenaikan kelas saja) kayaknya nggak segitunya deh!
Alhasil setelah dengan susah payah kita berdua (bapaknya sampai ikut turun tangan hanya untuk 'memaksa' Xti merem dan tertidur... jam 1 pagi!!!) sukses mengantarnya ke alam mimpi... mimpi beneran atau nggak ya mene ke tehe, hehehe....
Surprisenya, dengan jam tidur yang cukup singkat untuk bocah umur 7 tahun, Xti benar-benar bisa bangun pagi tanpa rewel, tidak sedikitpun! Karena sering dia dapat diskon penuh untuk membuat laporan ke bapaknya jika cuma 'sekedar' rewel yang tidak berarti 'beban' buatku). Bahkan hari ini bukan saja semangat ke sekolah, tapi tumben banget dia juga semangat '45 berangkat les biola jam 2 siang!! Malah ibunya yang sedikit loyo karena ngantuk berat. Kalau nggak demi anak dan demi uang (matrek banget sih, hihihi...) yang harus berpindah tangan ke pihak Concillio, pilih bobok siang deh!

Boleh juga semangat Xti hari ini, boleh dipuji, boleh ditiru, boleh (baca:harus) diteruskan. Boleh deh!

Minggu, 23 Maret 2008

Minggu Paskah

Semalam semua tidur lewat tengah malam. Sudah masuk hari Minggu. Entah ada apa dengan Xti, dia ketakutan sendiri, padahal ibunya sudah ngantuk berat! Itu pasti gara-gara bapaknya sering cerita tentang Smeagol (mahluk kerdil menakutkan di film The Lord of The Ring). Padahal semua sepakat ikut misa anak-anak Minggu pagi. Xti masih sedikit rewel waktu bangun (baca:dibangunkan). Sudah bagus dia bisa mengurus dirinya sendiri setelah mandi.Pasti juga karena hari ini anak-anak boleh duduk tepat di depan altar dan boleh membawa persembahan sendiri yang membuat dia ada tambahan semangat. Bahkan ketika frater memberi tanya jawab, saya dan bapaknya sempat membahas apa Xti ikutan berebut menjawab. Saya bilang gak mungkin, karena saya tahu Xti biasanya EGP (emang gue pikirin). Sementara ketika mendengar beberapa anak yang diberi kesempatan menjawab saya serasa mendengar suara Xti. Tapi gak mungkin bangetlah. Selesai misa, dengan bangganya Xti menunjukkan hadiah hasil dia menjawab, nah lho! Mengapa ibunya ini tadi underestimate gitu ya? Tapi apapun itu, ibu bangga kok nduk! Selamat Paskah!

Sabtu, 22 Maret 2008

Musim Hujan

Bulan Maret. Masih masuk musim hujan. Tapi tidak kayak musim hujan, nah lho! Lha iya, wong lebih sering hujan dadakan. Masih pakai mendung dulu sih, tapi sering tidak terduga. Kelihatannya mendung, tapi hujannya cuma sebentar. Sementara ketika cuaca cerah, terus bepergian tanpa sedia payung sebelum hujan karena kepedean dan sok tahu gak bakalan turun hujan, eh, tanpa diduga langit bisa langsung gelap dan hujan dengan cepatnya bisa langsung mengguyur tanah, hujan beneran deh! Keselnya kalau pas harus berangkat antar Xti ke sekolah tiba-tiba hujan, sebel banget!! Jalan keluar masuk gang rumah(kontrakan)ku lumayan becek dan kalau tidak hati-hati kaki bisa kejeblos tanah merah. Mana harus nunggu angkot pula! Untungnya sekarang masih libur tengah semester, jadi bisa males-malesan di rumah, males ke pasar, otomatis males masak, akhirnya kalau tersisa sedikit semangat ya bikin nasi goreng, atau mie instan dijadikan jalan pintas. Maunya sih pakai jasa delivery, tapi dikarenakan tanggal 'tua', ya ngempet gitu lho, hehe..